Pages

Ads 468x60px

Featured Posts

Rabu, 17 Juli 2013

Berapa Banyak Boleh Makan Telur dalam Sehari?

SHUTTERSTOCK
JAKARTA — Sebagai sumber protein hewani, telur sangat mudah didapatkan. Tak heran cukup banyak orang yang mengonsumsi telur setiap hari. Namun, dengan kadar kolesterolnya yang tinggi, seberapa sering kita boleh mengonsumsi sumber protein ini setiap harinya?

Sebenarnya berapa banyak yang boleh dikonsumsi tergantung pada berbagai faktor, antara lain usia, jenis kelamin, berat badan, sampai tingkat aktivitas fisik harian. Para peneliti dari Harvard Medical School merekomendasikan konsumsi satu telur per hari untuk tingkat kolesterol dan jantung yang sehat.

Hal ini didasarkan panduan diet Amerika pada tahun 2010. Disebutkan, orang dewasa sehat harus mengkonsumsi  46 sampai 56 gram protein per hari. Jumlah tersebut bisa didapatkan dari berbagai sumber, termasuk telur.

Selain protein dan kalsium , telur juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral penting. Satu telur rebus besar tidak hanya mengandung 78 kalori, tapi juga 6,29 gram protein, 25 miligram kalsium, 0.59 miligram besi, dan 112,7 mikrogram kolin. Telur juga mengandung 22 mg folat, 260 IU vitamin, 44 IU vitamin D, 176 mg lutein dan zeaxanthin. Vitamin B juga ada di dalam telur dengan jumlah yang sedikit dari beberapa jenis.

Walau identik dengan kolesterol, tetapi berbagai penelitian membantahnya. Sebuah laporan yang dipublikasikan pada januari 2006 berjudul Current Opinion in Clinical Nutrition and Metabolic Care menyimpulkan, konsumsi telur tidak berkontribusi pada penyakit jantung pada orang dewasa yang tidak memiliki riwayat kolesterol tinggi. Telur juga tidak berdampak pada kadar kolesterol darah pada 70 persen populasi.

Konsumsi telur diketahui tidak berhubungan dengan penyebab diabetes. Penelitian pada Agustus 2010 berjudul American Journal of Clinical Nutrition menyatakan, sering makan telur tidak menunjukkan risiko lebih besar terkait diabetes tipe 2. Penelitian diikuti 3.898 orang dewasa yang makan satu telur per bulan sampai satu telur per hari selama 18 tahun.

Kerap Dapat Shift Malam, 80 Persen Wanita Sulit Hamil


ilustrasi (Foto: Getty Images)

Jakarta, Studi sebelumnya mengungkapkan bahwa wanita yang bekerja shift malam berisiko tinggi terkena kanker payudara. Sekali lagi, bahaya tengah mengintai wanita-wanita yang bekerja di shift malam. Sebuah studi baru menemukan shift malam menyebabkan pekerja wanita juga susah hamil.

Berdasarkan survei yang dilakukan tim peneliti dari Southampton University terhadap lebih dari 100.000 responden wanita ini pun terungkap bahwa pola kerja selain shift harian permanen dapat meningkatkan peluang gangguan siklus menstruasi hingga 33 persen dan keguguran sebesar 29 persen.

Dan bagi wanita yang hanya bekerja di malam hari, mereka berpeluang 80 persen lebih sulit untuk bisa mengandung dibandingkan wanita yang jam kerjanya siang hari. Mereka juga dua kali lebih mungkin dikategorikan ke dalam kelompok 'sub-fertile', atau gagal hamil dalam kurun waktu satu tahun.

Menurut Dr. Linden Stocker, seorang dokter anak yang juga sering mendapat shift malam, mengatakan bahwa masalahnya waktu tidur dan bekerja yang tak tentu tampaknya mengganggu jam biologis wanita, padahal hal itu juga membantu mengendalikan fungsi-fungsi kunci wanita seperti produksi hormon, mengatur suhu tubuh, tekanan darah dan detak jantung.

Walaupun begitu, Dr. Stocker juga tak dapat mengesampingkan faktor lain seperti pekerja sistem shift yang biasanya mempunyai gaya hidup tak sehat seperti makan sembarangan atau malas berolahraga.

"Kami tak benar-benar memahami mengapa pekerja shift berisiko tinggi terkena penyakit tertentu tapi shift kerja semacam ini jelas-jelas berdampak terhadap fungsi biologis, fungsi psikologis sekaligus fungsi sosial seseorang," terang Dr. Stocker seperti dilansir Daily Mail, Rabu (10/7/2013).

Lagipula meski Dr. Stocker menemukan kaitan antara gangguan tidur dan masalah kesuburan tapi itu tidaklah membuktikan bahwa satu hal menyebabkan lainnya, begitu juga sebaliknya.

"Kalaupun temuan kami telah dikonfirmasi studi lain, berarti ada implikasi yang akan diterima oleh pekerja shift dan rencana reproduksi mereka. Untuk itu pola shift kerja yang lebih 'ramah' bisa diadopsi," tambahnya.

Namun Dr. Stuart Lavery, pakar kesuburan dari Hammersmith Hospital, West London mendesak para wanita usia melahirkan (20 persen dari pekerja shift malam) untuk tidak berhenti dari pekerjaannya sampai penelitian ini dikonfirmasi.

"Toh tak ada buktinya berganti pekerjaan dapat meningkatkan kondisi reproduksi Anda," pungkasnya.

Kenali Gejala Autisme sejak Bayi


SHUTTERSTOCK
Sering-seringlah mengajak bayi berkomunikasi.
JAKARTA— Diagnosis autisme yang tepat sejak usia dini sangat membantu mengurangi gejala autisme agar tidak berkembang semakin buruk. Karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk mengenali gejala-gejalanya pada bayi mereka.

Memang tidak mudah mendeteksi autisme. Dibutuhkan ketajaman pengamatan orangtua dan dokter. Namun, menurut para peneliti dari Yale University School of Medicine, gejala autisme mungkin sudah tampak pada bayi berusia 6 bulan.

Pada tahapan usia tersebut, anak-anak yang didiagnosis autisme biasanya tidak terlalu peduli pada orang di sekitarnya dan juga aktivitasnya, dibandingkan dengan anak-anak yang normal.

Katarzyna Chawarska dari Yale Child Study Center menjelaskan, penelitian yang dilakukannya menunjukkan kemungkinan melakukan identifikasi risiko autisme melalui perhatian visual anak.

Dalam penelitian tersebut, Chawarska meneliti 67 bayi yang berisiko tinggi menyandang autisme karena memiliki anggota keluarga dengan kondisi tersebut. Mereka lalu dibandingkan dengan 50 bayi yang risikonya lebih rendah.

Semua bayi ditunjukkan video berdurasi tiga menit yang menggambarkan seorang wanita melakukan beberapa kegiatan, misalnya membuat roti isi atau melihat ke mainan.

Sambil membuat roti, aktris wanita sesekali melihat ke kamera dan berusaha membuat kontak mata dan berkata, "Bagaimana kabarmu, sayang," atau "Kamu sungguh lucu," dan "Apakah kamu melihat singa?"

Para peneliti memonitor seberapa sering bayi-bayi itu melihat ke mainan dan wanita di TV. Kemudian saat bayi itu melihat ke TV, bayi yang kerap menghindari wajah wanita itu dinilai sebagai bayi yang berisiko tinggi mengalami autisme.

Anak yang menyandang autisme memang mengalami masalah perkembangan dengan tiga ciri utama, yaitu gangguan pada interaksi sosial, komunikasi, selain keterbatasan minat dan imajinasi.

Ini Dia Mitos Pola Makan yang Pengaruhi Gizi Anak


Ilustrasi (dok: Thinkstock)

Jakarta, Namanya juga hidup di masyarakat, tentu tak lepas dari mitos dan kebiasaan. Nah, terkait pola makan di masyarakat pun ada mitos-mitos yang dipercaya benar sehingga menjadi kebiasaan.

"Di Nigeria, makan telur dianggap akan menunda menutupnya ubun-ubun bayi," ujar Staf Ahli Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dr Pinky Saptandari, MA dalam diskusi 'Peran Budaya dalam Pemenuhan Gizi Ibu dan Anak' yang digelar Sarihusada di Hotel Sultan, Jl Gatot Subroto, Jakarta, dan ditulis pada Kamis (18/7/2013).

Karena ada mitos seperti itu, akibatnya ibu-ibu yang masih memberikan air susu ibu (ASI) tidak mengonsumsi telur. Padahal telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting bagi ibu dan bayi yang disusuinya.

"Dulu di NTB ada praktik di mana bayi diberi makan nasi yang terlebih dahulu dikunyah oleh yang memberi makan, yaitu ibu/nenek. Jadi bukan cuma makanan yang dimakan bayi, tetapi mungkin juga ada penyakit yang ikut berpindah," sambung Pinky.

Mitos lainnya adalah bahwa ikan seharusnya tidak diberikan kepada Ibu Hamil karena akan membuat bayi berbau amis. Ini sama sekali tidak benar. Faktanya, ikan mengandung sejumlah nutrisi penting yang bermanfaat bagi perkembangan janin.

Selain itu masih ada yang memahami bahwa tujuan makan semata-mata hanyalah agar kenyang. Karena itu kandungan gizinya sama sekali tidak diperhatikan. Alhasil anak diberi makan banyak tetapi minim nilai gizi. Misalnya anak diberi makan nasi dalam jumlah banyak dengan lauk kecap dan kerupuk. Tentu saja makanan itu sangat minim gizi yang diperlukan bagi tumbuh kembang anak.

"Berkembang pula bahwa anak laki-laki harus makan lebih banyak daripada anak perempuan. Jika ada anak perempuan yang makannya banyak langsung dibilang makannya seperti kuli, sehingga kemudian anak perempuan makan lebih sedikit daripada anak laki-laki," papar Pinky.

Selain itu dalam struktur keluarga, prioritas utama makanan untuk ayah dan anak, sementara ibu (termasuk ibu hamil) mendapat prioritas kedua. "Ini misalnya kebiasaan di mana kalau makan ayam, ayah boleh milih dada, anak milih bagian lain, tapi ibunya dapat ceker," ucap perempuan asal Surabaya, Jawa Timur, ini.

Karena itu perlu kebijakan dan model-model layanan yang membangun kemandirian dan layanan kesehatan berbasis komunitas dengan paradigma sehat. Perlu juga perubahan pola pikir, gaya hidup dan perilaku, serta perubahan pola pengasuhan dalam keluarga.

"Pentingnya perubahan secara menyeluruh dalam pendidikan maupun pola pengasuhan dalam keluarga, agar seluruh masyarakat sadar atau melek gizi untuk membangun dan memperkuat generasi penerus bangsa," saran Pinky.

Selasa, 16 Juli 2013

Patuhi Anjuran Ini, Agar Puasa Punya Efek 'Detoks' Bagi Pencernaan



Foto: Ilustrasi/Thinkstock

Jakarta, Kalau terlanjur suka pada makanan tertentu, banyak orang yang tak mempertimbangkan kandungan makanan yang dikonsumsinya. Padahal bisa jadi makanan-makanan itu mengandung racun bagi tubuh sehingga untuk waktu tertentu kita perlu melakukan detoksifikasi.

Beruntung detoksifikasi atau proses pembersihan racun dari tubuh itu sendiri tidaklah rumit, karena berpuasa atau menahan makan dan minum selama beberapa waktu dalam sehari dapat dikategorikan sebagai detoksifikasi.

Banyak dokter dan pakar kesehatan pun sepakat bahwa berpuasa adalah salah satu bentuk 'detoks alami'. Bagaimana dengan kata Rita Ramayulis, DCN, M.Kes? Pakar nutrisi ini mengatakan, "Puasa itu menurut saya termasuk detoks, sebab tubuh dibiarkan tidak mencerna makanan selama lebih kurang 12 jam. Organ tubuh yang fungsi kerjanya akan menjadi lebih baik setelah puasa adalah pankreas, usus halus, usus besar, lambung, dan hati. Ini merupakan 5 organ yang berperan penting dalam sistem pencernaan di dalam tubuh."

Rita menerangkan, jika makanan-makanan ini tidak masuk ke dalam tubuh selama 12 jam, 5 organ tersebut akan lebih bisa beristirahat. Lagipula upaya detoks itu sendiri upaya berfungsi untuk mengembalikan fungsi organ.

"Kan kita pakai selama setahun untuk mencerna makanan, jadi bagus sekali berpuasa sebulan ini, memberi kesempatan organ-organ tersebut untuk lebih istirahat dan kembali ke fungsi awal," tekan pengajar jurusan Gizi di Politeknik Kesehatan Jakarta II ketika dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (10/7/2013).

Selain mengamini pernyataan pakar nutrisi lulusan magister jurusan Gizi Klinik di Universitas Gadjah Mada tersebut, dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB pun mengungkapkan manfaat lain dari puasa sebagai metode detoks.

Konsultan saluran pencernaan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengatakan, "Berdasarkan penelitian di RSCM bahwa ternyata pada orang yang berpuasa terjadi penurunan dari free radical. Free radical itu kan racun-racun. Padahal proses kita makan itu kan menghasilkan racun-racun."

"Puasa juga memberi kesempatan bagi pankreas, liver untuk istirahat. Dan kalau bicara soal istirahat, tentu berkaitan dengan regenerasi. Ada proses tubuh memperbaiki bagian yang rusak. Bukti-bukti klinis mengatakan demikian," tambahnya.

Lalu untuk membantu memperlancar proses detoksifikasi dengan berpuasa, adakah makanan pantangan tertentu yang harus dihindari? Menurut Rita tak ada pantangan makanan tertentu untuk mendapatkan efek detoks. Pun tak perlu memberikan ketentuan jam makan atau porsi khusus agar bisa memperoleh efek detoksifikasi karena puasa itu sendiri sudah merupakan detoks secara alami.

"High Heels" Timbulkan Nyeri Sejam Setelah Dipakai



shutterstock
JAKARTA - Bagi kebanyakan kaum wanita, sepatu bertumit tinggi alias high heels adalah barang wajib untuk menunjang penampilan. Padahal, sepatu jenis ini langsung menyebabkan sakit setelah satu jam dipakai.


Sementara itu jika sepatu bertumit tinggi dipakai untuk berdansa, rasa nyeri langsung timbul setelah 10 menit pemakaian.

Demikian diungkapkan sepertiga responden di Inggris. Mereka mengakui terpaksa menahan sakit semalaman saat menggunakan sepatu untuk dansa sehingga saat pulang mereka memilih bertelanjang kaki.

Survei tersebut dilakukan oleh The College of Podiatry terhadap 2.000 pria dan wanita, serta 60 pakar kesehatan kaki (podiatris) dan terapis kaki.

Konsultan podiatris Mike O'Neil dari College of Podiatry memperingatkan bahaya menekuk kaki akibat pemakaian sepatu yang sempit bisa menimbulkan kerusakan jangka panjang, termasuk artritis, retak tulang, dan saraf kejepit, yang membutuhkan tindakan operasi atau suntikan steroid untuk mengurangi rasa nyeri.

"Tak dipungkiri lagi pemakaian high heels membuat para wanita berpotensi cedera jangka panjang atas nama fesyen. Jika diberikan pilihan akan sepatu yang bergaya atau sepatu yang nyaman, kebanyakan akan memilih yang pertama," kata O'Neil.

Semakin tinggi dan miring tumit sepatu, semakin terdorong ke depan tubuh kita sehingga kita harus mundur untuk menyeimbangkan. "Hal ini membuat tulang panggul tidak lurus sehingga terjadi tekanan pada tulang belakang," katanya.

Sepatu tumit tinggi dengan ujung yang sempit bisa menekan kaki sehingga jari-jari kaki dipampatkan dan bisa memicu kuku tumbuh ke dalam, mata ikan, atau pun kapalan. Kondisi itu juga bisa menyebabkan kaki lebih lembab, terutama jika high heels dipakai seharian, sehingga jamur dan bakteri tumbuh subur.

"Sepatu yang membuat kita berjalan dengan bagian telapak bawah bisa menyebabkan rasa sakit dan tekanan berlebih. Ini juga bisa memicu robekan pada persendian sehingga timbul artritis," katanya.

Sepatu dengan tinggi tumit lebih dari 5 sentimeter sebaiknya diwaspadai. Bila ingin terlihat tinggi, lebih disarankan menggunakan tumpukan sol tebal, seperti sepatu wedges.

Meski sebagian besar mengeluhkan rasa nyeri akibat sepatu tumit tinggi, namun 20 persen dari responden mengatakan tak mau berobat ke dokter karena rasa nyeri tersebut tak mereka anggap penting.

Bagaimana Perawatan Gigi yang Baik Saat Puasa?


Ilustrasi (dok: Thinkstock)

Jakarta, Saat puasa, perawatan gigi seringkali tidak dianjurkan karena dikhawatirkan akan ada cairan yang tertelan dan membatalkan puasa. Nyatanya, kesehatan gigi saat berpuasa tetap penting untuk diperhatikan dan tetap membutuhkan perawatan gigi. Bagaimana perawatan gigi yang baik saat puasa menurut dokter gigi?

"Sebetulnya batal puasa itu kan karena makan atau minum. Menurut saya kalau cuma bersihin karang gigi, kumur-kumur, tidak masalah asal jangan tertelan. Selama bulan puasa kesehatan gigi kan harus tetap dijaga," tutur Prof Heriandi Sutadi, drg, SpKgA (K), PhD, spesialis kedokteran gigi anak, saat dihubungi  dan ditulis pada Rabu (17/7/2013).

Ditambahkan oleh Prof Heriandi, sebaiknya pasien tetap berkunjung ke dokter gigi untuk merawat giginya selama bulan puasa. Tak hanya pembersihan karang gigi, tindakan seperti penambalan gigi juga masih bisa dilakukan. Apalagi kalau kondisi giginya memang sudah nyeri dan memang butuh segera ditambal. Yang paling penting adalah tidak menelan apapun selama prosedur.

"Sedangkan untuk mengatasi masalah infeksi, ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa mengatasi infeksi dengan memberi suntikan dari mulut tidak apa-apa, tapi saya tidak tahu juga bagaimana pastinya," ujar Prof Heriandi, yang pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI).

Sedangkan untuk pemberian obat, dokter gigi biasanya akan tetap memberikan dosis seperti yang memang dibutuhkan oleh pasien. Hanya saja untuk mengonsumsinya akan dikembalikan pada pasien tersebut dan disesuaikan dengan jadwal sahur dan berbuka.

"Kalau minum obat kan ada yang sehari 1 kali, 2 kali, dan 3 kali. Misalnya antibiotik, kan ada yang harus diminum 2 kali sehari. Jadi, ya pasien tinggal pilih dan disesuaikan antara jadwal selama puasa dengan jadwal obat yang diperlukan," tutur Prof Heriandi.